Jumat, 10 Juni 2016

Pakaian adat Maluku

PAKAIAN ADAT MALUKU
Sebagian besar pakaian adat hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan, upacara adat dan lain-lain. Di daerah Maluku pakaian adat disebut Pakaian baju Cale atau kain Selele. Pakaian adat ini biasa digunakan sebagai pelatikan raja, cuci negeri, pesta negeri, acara panas pela dan lain-lain. Ciri-ciri dari baju Cele ini terlihat dari motif garis-garis yang geometris/berkotak-kotak kecil. Baju cele ini biasanya dikombinasikan dengan kain sarung yang warnanya tidak terlalu jauh berbeda, harus seimbang dan serasi dan di kombinasi dengan kain yang pelekat yang disalele yaitu disarung dari luar dilapisi sampai batas lutut dan dipakai Lenso (sapu tangan yang diletakan di pundak). Pakaian ini dipakai tanpa pengalas kaki atau boleh juga pakai selop. Konde/sanggul yaitu konde bulan yang diperkuat lagi dengan tusukan konde yang disebut haspel yang terbuat dari emas atau perak. Selain itu ada juga  Baju Nona Rok
Kebaya putih tangan panjang berlengan kancing dari jenis kain Brokar halus.
Pengikat pinggang terbuat dari perak yang disebut pending. Pada bagian bawah mungkin sedikit modern yakni memakai Sepatu vantovel berwarna hitam dan berkaos kaki putih. Selain itu pada pakaian perempuan mengenakan Rok yang dibuat/dijahit lipit kecil sekali dari jenis kain motif kembang kecil-kecil warna merah atau orange. Seperti halnya orang Jawa Pada, pada bagain atas perempuan menggunakan konde yang dibuat dari rambut asli atau konde palsu yang siap dipakai yaitu konde Bulan. Selain itu ada juga bagian-bagain perlengkapan konde sebagai berikut:
1.    Tusuk konde disebut Haspel yang dibuat dari emas atau perak.
2.    Kak kuping 4 buah ditusuk pada lingkaran konde bentuknya seperti kembang terbuat dari perak atau emas.
3.    Sisir Konde diletakan pada bagian tengah dari konde tersebut dibuat juga dari emas atau perak.
4.    Bunga Ron dilingkar pada konde tersebut dibuat dari bahan gabus atau Papeceda.
Sebagain besar pakaian adat hanya membuat bagian luarnya saja. Di Maluku tidak hanya membuat pakain luar, namun ada juga yang menjadi ciri khas pakaian Maluku yaitu memperhatikan pakaian dalam juga. Berikut bagian-bagian pakaian dalam seperti Cole, yaitu baju dalam atau disebut kutang yang dipakai/digunakan sebelum memakai kebaya. Ada Cole berlengan panjang tapi ada juga Cole berlengan pendek dan pada bagian atasnya diberi renda border. Cole sendiri terbuat dari kain putih, sedangkan bagian belakang dari Cole tersebut disebut belakang cole dibordir bagian belakang. Sedangkain pada bagian depan, Cole memakai kancing dan pada bagian ujung lengan diberi renda bordir. Selain itu pada golongan menengah atau orang-orang terpelajar dan keluarga goolongan pemerintahan seperti guru, pendeta. Pakaian ini disebut pakaian Nona Rok. Pakaian ini dipakai pada acara-acara penting yaitu pesta perkawianan acara kenegaraan dan lain-lain.
            Masih banyak bagian-bagian juga bahan yang digunakan pada pakaian adat Maluku tersebut. Untuk lebih spesifinya berikut bagian-bagian dan bahan yang digunakan pada pakaian adat Maluku, baik yang dipakai oleh pria atau perempuan.
Baniang Putih & Kebaya Dansa
·         Baniang Putih
Baniang putih bentuknya seperti kemeja tapi lehernya bundar dan diberi kancing putih.
Baniang putih dipakai dibagian dalam pakaian lelaki yaitu kebaya dansa.
·         Kebaya Dansa
Kebaya dansa bentuknya seperti kemeja leher bundar tidak memakai kancing.Jenis kain boleh polos tapi boleh juga jenis kembang kecil.Pakaian ini dipakai pada waktu pesta rakyat oleh lelaki, sedang wanita memakai pakaian rok.
Kebaya Putih Tangan Panjang dan Kain Silungkang & Kebaya Hitam Gereja
·         Kebaya Putih Tangan Panjang dan Kain Silungkang
1.    Kebaya putih tangan panjang; kebaya ini terbuat dari kain brokar warna putih dan memakai kancing pada tangan kebaya dan kebaya pakai kancing peniti emas.
2.    Cole: yaitu baju dalam yang lebih dikenal dengan istilah kutang. Cole ini berelengan sampai ke sikut dan pada bagian atasnya diberi renda. Cole ini dibuat dari kain putih sedangkan bagian belakang yang dikenal dengan istilah belakang Cole itu juga dibordir. Bagian depan Cole juga memakai kancing.Kain yang dipakai adalah kain silungkang berwarna merah dengan motif kembang berwarna emas.
3.    Cenela adalah berupa slop yang dipakai dengan kaos kaki putih. Cenela dihiasi dengan motif kembang berwarna emas.
4.    Konde/sanggul: yaitu konde bulan yang diperkuat dengan tusuk konde yang disebut karkupeng. Pakaian ini dipakai pada masa lalu oleh wanita-wanita, keluarga raja, keluarga guru, dan keluarga pendeta
Kebaya Hitam Gereja
1.    Kebaya ini bermotif baju cele, berlengan panjang dari kain brokar hitam, juga kain sarung dari jenis brokar yang sama. Pakaian ini dipakai boleh memakai kain pikul boleh juga tidak.
2.    Cenela hitam dipakai dengan kaos kaki putih.
3.    Sapu tangan/lenso berwarna putih dan berenda.
4.    Konde/sanggul yaitu konde bulan yang diperkuat dengan tusuk konde yang disebut haspel yang terbuat dari emas atau perak


Rumah Adat Maluku
BY RUMAH-ADAT.COM , AT 6:29 AM 

Rumah adat Maluku disebut rumah adat Baileo atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah balai. Pengambilan nama balai atau Baileo ini disesuaikan karena rumah adat Baileo ini dibangun dan digunakan oleh penduduk setempat sebagai tempat pertemuan dan bermusyawarah dengan dewan adat penduduk setempat dan bukan sebagai hunian penduduk. Selain itu rumah adat Baileo ini juga digunakan untuk menggelar acara adat dan sebagai tempat penyimpanan benda antik dan keramat seperti benda pusaka dan senjata peninggalan leluhur.






Rumah adat Baileo berbentuk rumah panggung yang besar dan memiliki ketinggian 1 sampai 2 meter. Atapnya terbuat dari rumbia dan rumah adat Baileo ini tidak memiliki sekat luar atau dinding dan jendela. Bangunan ini banyak menggunakan kayu –kayu yang dipenuhi ukiran unik serta dihiasi berbagai macam ornament khas Maluku. Rumah adat Maluku ini bukan hanya sekedar balai pertemuan biasa, pembangunannya berlandaskan prinsip, symbol, dan kepercayaan penduduk pada masa tersebut.


Pembangunan rumah adat Maluku atau rumah adat Baileo ini sebagai rumah panggung atau lebih tinggi dari tanah memiliki kepercayaan bahwa roh – roh leluhur memiliki posisi yang lebih tinggi atau diatas manusia. Secara prinsip rumah adat Baileo dibuat lebih tinggi agar penduduk setempat dapat melihat bahwa proses musyawarah dilakukan dari luar ke dalam dan dari bawah ke atas. Sedangkan secara fungsinya, kondisi rumah adat Baileo yang tidak memiliki sekat luar memudahkan binatang liar untuk memasuki dan merusak bagian dalam rumah adat sehingga dengan dibuat lebih tinggi dapat meminimalisir masuknya binatang. Namun, saat ini terdapat beberapa rumah adat Baileo yang dibangun tanpa tiang penyangga bawah melainkan menggunakan batu dan semen.







Rumah adat Baileo tidak memiliki sekat luar dan jendela. Menurut kepercayaan adanya sekat luar atau dinding dan jendela dapat menutup jalan masuk dan keluar bagi roh leluhur pada saat berlangsungnya proses musyawarah. Sedangkan secara fungsional dengan tidak adanya sekat luar maka penduduk dapat menyaksikan berlangsungnya proses musyawarah dari luar rumah adat Baileo. Namun, saat ini terdapat beberapa rumah adat Baileo yang dibangun menggunakan sekat luar atau dinding yang terbuat dari tangkai rumbia atau gaba – gaba.



Rumah adat Baileo mempunyai symbol yang menjadi salah satu ciri khasnya sebagai rumah adat yaitu adanya Batu Pamali dan Bilik Pamali tepat di bagian depan pintu utama rumah adat Baileo. Secara fungsional Batu Pamali diletakkan sebagai petunjuk bagi penduduk bahwa rumah tersebut adalah balai adat. Selain itu Batu Pamali  digunakan sebagai wadah untuk menaruh sesaji dan persembahan pada roh leluhur sedangkan Bilik Pamali digunakan sebagai tempat menaruh dan menyimpan benda – benda keramat penduduk setempat terutama yang digunakan pada upacara adat.



Kayu – kayu pada rumah adat Baileo dipenuhi berbagai ukiran – ukiran dan ornament - ornament. Pembuatan ukiran dan ornament ini juga berlandaskan kepercayaan dan juga sebagai symbol. Ukiran yang terdapat pada ambang pintu berbentuk dua ekor ayam yang saling berhadapan dan dihimpit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri dan kanan. Ukiran ini menggambarkan kedamaian dan kemakmuran. Menurut kepercayaan hal itu disebabkan adanya roh leluhur yang menjaga penduduk Maluku. Sedangkan di atap rumah adat Baileo terdapat ukiran berupa gambar adalah bulan, bintang dan matahari yang berwarna merah, kuning dan hitam. Ukiran tersebut mencerminkan kesiapan rumah adat Baileo sebagai balai untuk melestarikan dan menjaga persatuan serta keutuhan adat dan hukum adat. Selain itu, terdapat pula ukiran yang melambangkan setiap klan atau marga dari penduduk tersebut.

Selain ukiran, jumlah pilar – pilar penyangga bangunan yang terdapat pada rumah adat Baileo menunjukkan jumlah klen yang terdapat di desa tersebut. Di bagian depan dan belakang rumah adat terdapat 9 pilar penyangga rumah, sedangkan di bagian kanan dan kiri rumah adat terdapat 5 pilar penyangga yang dikenal sebagai lambang Siwa Lima. Siwa Lima yang memiliki pengertian saling memiliki adalah symbol persekutuan desa - desa di Maluku dari kelompok Siwa dan Kelompok Lima.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjikX7UsKLZa4-uqsQ1qA8ahCgb-ZRlyXUJxRLmVJerdkjHFJHznNFep0x32NBeOGbJzFse7Onyt9ubsM06Tgp37no3Ztlw31FuBGmlcEbSBicnliv7xflZIKEz8u5h5JZZ2PTNXKNhtJUL/s1600/7a.jpg


Tokoh-tokoh dari Maluku (Alexander Jacob Patty)

ALEXANDER JACOB PATTY
Alexander Jacob Patty lahir pada tanggal 15 Agustus 1901 di Desa Nolloth, Pulau Saparua. Ia keturunan keluarga besar Patty di negeri Nolloth Pulau Saparua. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya pada “Saparoeasche School” di kota Saparua, Alex melanjutkan studinya ke Surabaya dan memasuki sekolah kedokteran NIAS (Nederlandsche Indische Aartsens School). Baru pada tingkat pertama Alex sudah dikeluarkan dari sekolah karena sifat dan tingkah lakunya yang ekstrim. Ia tidak senang dengan Pemerintah Belanda karena politik diskriminasi terhadap kaum militer Ambon dalam KNIL.
Pada tahun 1919, Alex pindah ke Semarang dan mulai aktif dalam dunia kewartawanan. Pertama kali mendirikan Perkumpulan Kemakmuran Rakyat Ambon (Maluku). Kemudian karena perkembangan gerakan kebangsaan, organisasi yang bersifat sosial ini ditinggalkan oleh Patty dan mendirikan organisasi baru yang bersifat politik yaitu “Sarekat Ambon” pada tanggal 9 Mei 1920 dan membawa ide organisasi ini ke dalam ide Nasionalis Indonesia. Pada tahun 1922, A. J. Patty masuk dalam “Radikale Consentratie” (gabungan partai radikal). Sifat-sifat radikal dan revolusioner Patty, ditentang oleh para rekannya dari “Ambonsche Studie Fonds”, namun ia tetap membawa Sarekat Ambon dalam semangat kebangsaan Indonesia. Ide Sarekat Ambon terus disiarkan melalui majalah Mena Muria dan di kota-kota besar di Jawa dibuka cabang Sarekat Ambon.
Sarekat Ambon juga mempunyai bagian khusus untuk wanita, yaitu organisasi “Ina Tuni”. April 1923, A. J. Patty memperkenalkan ide Sarekat Ambon kepada masyarakat Ambon. Sesuai kondisi didirikan dahulu suatu Komite Sarekat Ambon dan A. J. Patty segera berkeliling ke negeri-negeri mempropaganda ide Sarekat Ambon. Tahun 1924, Patty berhasil dipilih sebagai anggota Ambon Raad dan di lembaga perwakilan ini ia mulai memperjuangkan nasib rakyat, namun politiknya ditentang keras oleh para raja, yaitu “Regenten Bond”. Ia dituduh berbahaya oleh pemerintah, padahal rakyat sangat simpatik pada Sarekat Ambon. Karena dituduh melanggar hukum (adat) dan menghasut rakyat, ia ditangkap dan ditahan oleh Asisten Residen. Kemudian dibawa ke Makassar dan diadili oleh “Raad van Justitie”. Setelah dihukum, tahun 1942, Patty diringkus ke Bengkulu (Suamatera) kemudian ke Boven Digul (Irian Jaya) sampai pecah Perang Dunia II. Pada masa Jepang, dapat meloloskan diri ke Australia dan pada masa revolusi kemerdekaan, berjuang bersama Bung Karno dalam mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Negara Kesatuan RI. Alexander Jacob Patty meninggal dunia di Badung pada tanggal 15 Juli 1947. Tokoh pejuang ini dihargai sebagai seorang “Perintis dan Pejuang Kemerdekaan”

Referensi: Balagu. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/alexander_patty.html


Tokoh-tokoh dari Maluku (Prof. Dr. G. A. Siwabessy)

GERRIT AUGUSTINUS SIWABESSY
Gerrit A. Siwabessy dilahirkan dalam suatu keluarga petani dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga guru pada tanggal 19 Agustus 1914 di Desa Ullath Pulau Saparua. Ia keturunan keluarga besar Siwabessy dari Desa Ullath di Pulau Saparua. Setelah menamatkan pendidikan dasar, kemudian ke sekolah menengah MULO di Ambon dan tamat tahun 1931. Selanjutnya melanjutkan studi ke sekolah kedokteran NIAS (Nederlandsche Indische Aartsens School) di Surabaya. Tahun 1942 memperoleh ijazah dokter dan dalam tahun yang sama ditempatkan pada rumah sakit Siampang di Surabaya, mengepalai bagian radiologi sampai tahun 1945.
Pada zaman Jepang, ia dianiaya dan nyaris meninggal. Selain tugas pokok pelayanan kesehatan, ia mengurus pula para pengungsi orang-orang Maluku. Pada masa perang kemerdekaan, Siwabessy dengan pemuda Maluku turut berjuang dalam pertempuran Surabaya melawan tentara Inggris dan Belanda. Ia menjadi anggota Komite Nasional Daerah dan menghimpun pemuda Maluku dalam oraganisasi PRIM (Pemuda Republik Indonesia Maluku). Kemudian dibentuk “Devisi Pattimura” dan Siwabessy kepala stafnya. Bersama Mr. J. Latuharhary dan Dr. J. Leimena, memimpin masyarakat Maluku di Jawa dalam revolusi kemerdekaan. Pada tahun 1949 melanjutkan studi ke Inggris (London) dan mendalami bidang Radiologi dan Kedokteran Nuklir di London University.
Kembali ke Indonesia tahun 1962 diangkat sebagai Kepala Bagian Radiologi (Ilmu Sinar) pada rumah sakit pusat RSCM. Kemudian Dr. Siwabessy merintis pembinaan di bidang radiologi antara lain : mendirikan Sekolah Asisten Rontgen di RSCM, melatih para dokter penyakit paru-paru, mengatur dan membina kegiatan-kegiatan klinis dalam bidang radiologi di rumah sakit pemerintah maupun swasta. Dr. Siwabessy kemudian diangkat sebagai Kepala Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan dan juga menjadi ketua dari Panitia Penyilidikan Radioaktivitas dan Tenaga Atom. Pada tahun 1954 didirikanlah Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Siwabessy menjadi direkturnya.
Pada tahun 1956, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Radiologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Prof. Dr. G. A. Siwabessy juga mengepalai Tim Dokter Kepresidenan. Pada Kabinet Pembangunan ia menjadi Menteri Kesehatan selama dua periode. Prof. G. A. Siwabessy juga mempunyai reputasi internasional dalam bidang keahliannya. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tahun 1981. Tokoh nasional dan “Bapak Atom” Indonesia ini dihargai jasa-jasa dan pengabdiannya oleh Pemerintah RI dan bangsa Indonesiaa sebagai seorang Mahaputera Indonesia yang besar dan dianugerahi bintang tertinggi yaitu “Bintang Mahaputera Utama”

Referensi: Balagu. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/gerits_siwabessy.html

Tokoh-tokoh dari Maluku (Johanes Leimena)

JOHANNES LEIMENA

Johannes Leimena atau akrab dipanggil Om Jo lahir pada Ambon, 6 Maret 1905 merupakan anak kedua dari empat anak pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu. Pada usia lima tahun, Johannes Leimena telah menjadi yatim. Beliau kemudian diasuh oleh pamannya. Masa kecil beliau dihabiskan di Ambon dengan bersekolah Ambonsche Burgerschool hingga tahun 1914, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan di Jakarta mengikuti kepindahan pamannya. Di Jakarta, beliau bersekolah di Europeesch Lagere School (ELS) selama beberapa bulan, kemudian pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang), lalu melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Gelar dokter beliau raih dari STOVIA. Beliau mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930 dan bertugas pertama kali di CBZ Batavia yang kini menjadi RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Setelah bekerja sebagai dokter, ia melanjutkan studi dan mendalami ilmu penyakit dalam. Tanggal 17 November 1939, Dr. Leimena mempertahankan disertasi doktornya dan meraih gelar doktor di Geneeskunde Hogeschool/GHS (Sekolah Tinggi Kedokteran), Batavia.
Johannes Leimena muda aktif di Jong Ambon dan ikut serta mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Sejak itu, karier Leimena semakin kuat dalam dunia pergerakan kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia Merdeka, Leimena ikut membidani pendirian Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Johannes Leimena juga merupakan satu-satunya orang yang mampu menjadi menteri selama 21 tahun berturut-turut dalam 18 kabinet yang berbeda. Jabatan menteri yang beragam yang pernah dijabati beliau, mulai dari Menteri Kesehatan yang pertama, Wakil Perdana Menteri, dan Wakil Menteri Pertama pada Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora 11(1966). Johannes Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituier) di TNI-AL.
Ketika Orde Baru berkuasa, Dr. Leimena mengundurkan diri sebagai menteri, tetapi ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Setelah itu, Johannes Leimena kembali aktif mengisi masa tua di organisasi-organisasi sosial hingga saat mengembuskan napas terakhir pada tanggal 29 Maret 1977 di Jakarta.

Referensi: Pahlawan Indonesia. (n.d.). Retrieved May 7, 2016, from https://www.pahlawanindonesia.com/biografi-pahlawan-nasional-dr-johannes-leimena/

Tokoh-tokoh dari Maluku (Leo Wattimena)

LEO WATTIMENA
Leonardus Willem Johanes Wattimena memiliki nama panggilan sehari-hari yaitu Bladsem, yang mengandung arti kilat/petir, sementara di kalangan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dikenal dengan nama yang singkat Leo Wattimena. Putra daerah kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat 3 Juli 1927 itu lahir dan dibesarkan oleh keluarga Kristen Protestan yang taat.   Ayahnya bernama Hein Leonardus Wattimena berasal dari Ambon, Maluku sedangkan ibunya yang bernama Maria Lingkan Wattie berasal dari Kawengian, Manado Sulawesi Utara.  
Sebelum memulai kariernya di AURI, diawali dengan menempuh  Hollands Inlandsche School (HIS) dan Algeme Middelbare School (AMS) pada tahun 1950 di Jakarta.     
Karier di AURI dimulai  bersama calon-calon perwira penerbang yang dikirim untuk mengikuti pendidikan Sekolah Penerbang Taloa selama satu tahun di California Amerika Serikat pada tahun 1950. Pendidikan penerbang tersebut diikuti 60 kader yang dikirim pemerintah Indonesia untuk mengikuti pendidikan penerbang Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TOLOA). 
Selama mengikuti pendidikan penerbang di Taloa Leo Wattimena menjadi lulusan terbaik dari 45 kadet yang menjadi penerbang, dan selebihnya menjadi navigator. Menyandang lulusan terbaik merupakan suatu kebanggaan tersendiri dan mengandung arti bagi dirinya untuk selalu berbuat yang terbaik setiap menjalankan tugas. Dari hasil yang sangat membanggakan itu membuat dirinya mendapat kesempatan Bersama 18 temen-temennya, untuk melanjutkan pendidikan instruktur selama tujuh bulan di TALOA.
Sesampainya kembali di tanah air selanjutnya ditempatkan di Skadron 3 Lanud Halim Perdanakusuma sebagai penerbang pesawat tempur merangkap instruktur Pesawat P-51 Mustang.  
Setelah kembali ke tanah air Indonesia  tahun 1951, kemudian diangkat menjadi Letnan Muda Udara I  dan ditempatkan di Komando Operasi di Halim Perdanakusuma, selanjutnya ditempatkan di Skadron 3 hingga pada tahun 1952 naik pangkat menjadi Letnan Udara II.  
Setelah naik pangkat menjadi Letnan Udara I di tahun 1954, kemudian mendapatkan kesempatan kembali pergi ke Inggris untuk mengikuti Pendidikan Penerbang Pesawat Pancargas pada RAF Centre Flying School di Little Resington selama satu tahun. Tahun 1955 bertugas kembali ke India dalam rangka peninjauan kesatuan-kesatuan pesawat Jet Vampire dari Indian Air Force selama dua bulan.   Setelah pulang dari India dengan pangkat Acting Kapten Udara, kemudian ditempatkan sebagai Perwira Instruktur Penerbang di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.   Meniti karier berikutnya pada bulan Mei 1956 sebagai perwira penerbang Skadron 3 diperbantukan pada Komando Group Komposisi.  
Pada bulan Juni 1956 kembali mendapatkan kesempatan yang ketiga kalinya dikirim ke luar negeri dalam rangka menghadiri perayaan hari Angkatan Udara Republik Uni Sovyet (Rusia). Pada pada tanggal 18 April 1956, Leo Wattimena menikah dengan seorang gadis bernama Corrie Dingemans, dan mereka dikaruniakan empat orang anak.
Penempatan penerbang untuk pesawat jet tempur de Havilland DH-115 Vampire adalah penerbang Leo Wattimena dan Rusmin Nurjadin.  Selesai mengikuti latihan untuk mengawaki Pesawat Jet Vampire, keduanya kembali ke tanah air untuk mempersiapkan calon-calon penerbang Pesawat Jet Vampire, salah satunya Kapten Udara Sri Mulyono Herlambang.  Bakat luar biasa yang ditunjukan saat menerbangkan DH-115 Vampire untuk pertama kalinya itu, menghantarkan Leo Wattimena untuk dipercaya memimpin armada Vampire Skadron 11 Lanud Kemayoran (1 Juni 1957).  Tercatat bahwa waktu itu Indonesia sudah memiliki 16 jet tempur buatan Inggris ini.  Predikat yang disandangnya  "sangat paham terhadap pesawat terbang" memang bukan omong kosong.
Dengan dibentuknya Komando Regional Udara (Korud) tahun 1961 akhirnya mendapat tugas baru sebagai Panglima Komando Regional Udara IV, tahun 1962 sebagai Wakil II Panglima Komando Mandala pembe­basan Irian Barat dengan pangkat Kolonel Udara. Agustus 1962 sebagai Panglima Angkatan Udara Mandala dengan pangkat Komodor Udara.  
Leo Wattimena adalah Jenderal pertama yang mendarat di Irian Barat, dengan menggunakan Pesawat C-130 Hercules setelah melaksanakan tugas penyebaran pamflet di daerah Merauke.  Pesawat yang diterbangkan oleh Captain Pilot Letkol Udara M. Slamet dan Co Pilot Mayor Udara Hamsana didalamnya ada Komodor Udara Leo Wattimena.   Setelah tugas selesai timbul keinginan Komodor Udara Leo Wattimena mendarat di Lapangan Terbang Merauke. 
Setelah masa tugasnya sebagai Duta besar di Italia berakhir, Laksamana Muda Udara Leo Wattimena menderita sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.  Di Rumah sakit Cipto itulah Laksamana Muda Udara Leo Wattimena menghembuskan nafasnya yang terakhir dan berpulang ke rumah Tuhan, dalam usia 47 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan 4 orang anak.  Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, jenasah disemayamkan di Markas Besar Angkatan Udara untuk memberi kesempatan kepada seluruh anggota AURI  memberikan penghormatan terakhir. Selama berdinas di AURI mendapatkan Bintang/tanda jasa berupa medali Sewindu, Gerakan Operasi Militer III, IV, V, VI, VII, Bintang Sakti dan Satyalencana Wira Dharma.

 


Referensi: Penerbang legendaris Auri. (2014, May 28).  Retrieved May 7, 2016, from Situs TNI Angkatan Udara. http://tni-au.mil.id/content/penerbang-legendaris-auri 

Tokoh-tokoh dari Maluku (Willem J Latumeten)

WILLEM JOHANNES LATUMETEN
Willem Johannes Latumeten lahir tanggal 16 April 1916 di Saparua dan dia adalah putera sulung dari Prof. DR. Y. A. Latumeten, tokoh pejuang dan ahli penyakit jiwa. Pendidikan yang di tempuh oleh Willem Johanes Latumeten adalah dimulai dari ELS (Europesche Lagere School) di Sabang dan lulus tahun 1930. Beliau kemudian melanjutkan di HBS di Malang dan lulus tahun 1937, lalu melanjutkan di Geneeskundige Hogeschool  (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta.
Pengabdian beliau dimulai sejak zaman revolusi fisik sampai pengisian kemerdekaan, baik di Kementrian Penerangan maupun di Departemen Olahraga ataupun sebagai Pembina Olahraga. Beliau mulai bekerja pada Kementrian Penerangan Jakarta permulaan tahun 1946 dan pada pertengahan tahun 1947 ia memimpin salah satu lembaga surat kabar yaitu Het Nieuws Blad. Beliau juga menjabat selaku Kepala Pewartaan / Press Service  Kemper RIS yang dimulai pada tahun 1950 dan merangkap juru bicara Departemen Penerangan. Ketika kembalinya zaman RI, beliau juga menjadi Kepala Bagian Pewartaan Kementrian Penerangan merangkap juru bicara. Pada tahun 1958 ia ditugaskan untuk membantu Menteri Penerangan dan tahun 1962 ditugaskan ke Departemen Olahraga sebagai Pembantu Khusus Menteri Olahraga.
Ketika menjabat sebagai Pembina olahraga, adapun usaha-usaha yang beliau lakukan, antaralain:  mendirikan Sekolah Tinggi Olahraga di Jakarta, membentuk keorganisasian olahraga (PERBASI), membina para atlet untuk terjun ke ASEAN GAMES IV Tahun 1962 dan GANEFO tahun 1963, menjadi Sekretaris Umum Komite Olympiade Indonesia Pusat (1955 – 1964). Willem Johanes Latumeten disebut sebagai seorang pejuang dan nasionalis sejati karena dalam perundiangan antara Indonsia dengan Belanda, sering bertindak sebagai juru bicara delegasi Indonesia. Willem Johanes Latumeten meninggal dunia 23 Maret 1965, dan sebagai pahlawan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta. Karena jasa-jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi pemerintah “LENCANA BAKTI”.


Referensi: Balagu. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/wj_latumeten.html.