Jumat, 10 Juni 2016

Tokoh Pendidikan dari Maluku (Thomas Matulessy)

THOMAS MATULESSY
Thomas Matulessy atau lebih sering dikenal dengan nama Pattimura lahir di Hualoy, Seram Selatan, Maluku pada tanggal 8 Juni 1783. Beliau meninggal di Ambon, Maluku pada 16 Desember 1817 ketika dia berumur 34 tahun. Ia adalah putra Frans Matulessy dan Fransina Silahoi. Sebelum melakukan perlawanan terhadap VOC ia pernah berkarier dalam militer sebagai mantan sersan Militer Inggris. Pada tahun 1816 pihak Inggris menyerahkan kekuasaannya kepada pihak Belanda dan kemudian Belanda menerapkan kebijakan-kebijakan yang sangat merugikan dan menyiksa rakyat Maluku. Kebijakan-kebijakan itu seperti  politik monopoli, pajak atas tanah (landrente), pemindahan penduduk serta pelayaran Hongi (Hongi Tochten).
Thomas Matulessy memimpin rakyat Maluku melawan pemerintahan Belanda, yang dimulai tahun 1817 disebabkan oleh kondisi politik, ekonomi, dan hubungan kemasyarakatan yang buruk selama dua abad. Raja-raja Patih, Para Kapitan, Tua-tua Adat dan rakyat mengangkatnya sebagai pemimpin dan panglima perang karena berpengalaman dan memiliki sifat-sifat kesatria (kabaressi). Sebagai panglima perang, Kapitan Pattimura mengatur strategi perang bersama pembantunya dalam menghadapi Belanda. Sebagai pemimpin dia berhasil mengkoordinir raja-raja Patih dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan, memimpin rakyat, mengatur pendidikan, menyediakan pangan dan membangun benteng-benteng pertahanan. Kewibawaannya dalam kepemimpinan diakui luas oleh para raja Patih maupun rakyat biasa.
Dalam perjuangan menentang Belanda ia juga menggalang persatuan dengan kerajaan Ternate dan Tidore, raja-raja di Bali, Sulawesi dan Jawa. Perang Pattimura yang berskala nasional itu dihadapi Belanda dengan kekuatan militer yang besar dan kuat dengan mengirimkan sendiri Laksamana Buykes, salah seorang Komisaris Jenderal untuk menghadapi Pattimura. Dalam pertempuran menghadapi Belanda, Pattimura bersama pasukanya berhasil mengalakan belanda dan salah satu keberhasilannya adalah berhasil merebutkan sebuah benteng pertahanan milik Belanda yaitu benteng Duurstede.
Pattimura ditangkap oleh pemerintah Kolonial Belanda di sebuah Rumah di daerah Siri Sori, Saparua. Pattimura kemudian diadili di Pengadilan Kolonial Belanda dengan tuduhan melawan pemerintah Belanda. Pattimura kemudian dijatuhi hukumam gantung. Namun sebelum dieksekusi di tiang gantung ternyata Belanda terus membujuk Pattimura untuk bekerja sama dengan pemerintahan kolonial Belanda akan tetapi Pattimura tetap menolaknya. Pattimura meninggal dia atas tiang gantung pada 16 Desember 1817 di depan Benteng Victoria di kota Ambon. Sebelum Pattimura meninggal dia mengeluarkan sebuah pernyataan “saya katakan kepada kamu sekalian (bahwa) saya adalah batu besar dan setiap batu besar akan terguling tetapi batu lain akan tergantikan. Pernyataan Pattimura ini tentu sangat mengandung arti dan harapan yang tinggi yang diletakan di atas pundak generasi muda Maluku dan pastinya memberikan motivasi dan semangat yang tinggi bagi anak-anak Maluku.


Referensi: Biografi Kapitan Pattimura. (n.d.). Retrieved May 26, 2016, from http://www.biografiku.com/2011/08/biografi-kapitan-pattimura-pahlawan.html 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar