Jumat, 10 Juni 2016

Pakaian adat Maluku

PAKAIAN ADAT MALUKU
Sebagian besar pakaian adat hanya digunakan pada acara-acara tertentu seperti pernikahan, upacara adat dan lain-lain. Di daerah Maluku pakaian adat disebut Pakaian baju Cale atau kain Selele. Pakaian adat ini biasa digunakan sebagai pelatikan raja, cuci negeri, pesta negeri, acara panas pela dan lain-lain. Ciri-ciri dari baju Cele ini terlihat dari motif garis-garis yang geometris/berkotak-kotak kecil. Baju cele ini biasanya dikombinasikan dengan kain sarung yang warnanya tidak terlalu jauh berbeda, harus seimbang dan serasi dan di kombinasi dengan kain yang pelekat yang disalele yaitu disarung dari luar dilapisi sampai batas lutut dan dipakai Lenso (sapu tangan yang diletakan di pundak). Pakaian ini dipakai tanpa pengalas kaki atau boleh juga pakai selop. Konde/sanggul yaitu konde bulan yang diperkuat lagi dengan tusukan konde yang disebut haspel yang terbuat dari emas atau perak. Selain itu ada juga  Baju Nona Rok
Kebaya putih tangan panjang berlengan kancing dari jenis kain Brokar halus.
Pengikat pinggang terbuat dari perak yang disebut pending. Pada bagian bawah mungkin sedikit modern yakni memakai Sepatu vantovel berwarna hitam dan berkaos kaki putih. Selain itu pada pakaian perempuan mengenakan Rok yang dibuat/dijahit lipit kecil sekali dari jenis kain motif kembang kecil-kecil warna merah atau orange. Seperti halnya orang Jawa Pada, pada bagain atas perempuan menggunakan konde yang dibuat dari rambut asli atau konde palsu yang siap dipakai yaitu konde Bulan. Selain itu ada juga bagian-bagain perlengkapan konde sebagai berikut:
1.    Tusuk konde disebut Haspel yang dibuat dari emas atau perak.
2.    Kak kuping 4 buah ditusuk pada lingkaran konde bentuknya seperti kembang terbuat dari perak atau emas.
3.    Sisir Konde diletakan pada bagian tengah dari konde tersebut dibuat juga dari emas atau perak.
4.    Bunga Ron dilingkar pada konde tersebut dibuat dari bahan gabus atau Papeceda.
Sebagain besar pakaian adat hanya membuat bagian luarnya saja. Di Maluku tidak hanya membuat pakain luar, namun ada juga yang menjadi ciri khas pakaian Maluku yaitu memperhatikan pakaian dalam juga. Berikut bagian-bagian pakaian dalam seperti Cole, yaitu baju dalam atau disebut kutang yang dipakai/digunakan sebelum memakai kebaya. Ada Cole berlengan panjang tapi ada juga Cole berlengan pendek dan pada bagian atasnya diberi renda border. Cole sendiri terbuat dari kain putih, sedangkan bagian belakang dari Cole tersebut disebut belakang cole dibordir bagian belakang. Sedangkain pada bagian depan, Cole memakai kancing dan pada bagian ujung lengan diberi renda bordir. Selain itu pada golongan menengah atau orang-orang terpelajar dan keluarga goolongan pemerintahan seperti guru, pendeta. Pakaian ini disebut pakaian Nona Rok. Pakaian ini dipakai pada acara-acara penting yaitu pesta perkawianan acara kenegaraan dan lain-lain.
            Masih banyak bagian-bagian juga bahan yang digunakan pada pakaian adat Maluku tersebut. Untuk lebih spesifinya berikut bagian-bagian dan bahan yang digunakan pada pakaian adat Maluku, baik yang dipakai oleh pria atau perempuan.
Baniang Putih & Kebaya Dansa
·         Baniang Putih
Baniang putih bentuknya seperti kemeja tapi lehernya bundar dan diberi kancing putih.
Baniang putih dipakai dibagian dalam pakaian lelaki yaitu kebaya dansa.
·         Kebaya Dansa
Kebaya dansa bentuknya seperti kemeja leher bundar tidak memakai kancing.Jenis kain boleh polos tapi boleh juga jenis kembang kecil.Pakaian ini dipakai pada waktu pesta rakyat oleh lelaki, sedang wanita memakai pakaian rok.
Kebaya Putih Tangan Panjang dan Kain Silungkang & Kebaya Hitam Gereja
·         Kebaya Putih Tangan Panjang dan Kain Silungkang
1.    Kebaya putih tangan panjang; kebaya ini terbuat dari kain brokar warna putih dan memakai kancing pada tangan kebaya dan kebaya pakai kancing peniti emas.
2.    Cole: yaitu baju dalam yang lebih dikenal dengan istilah kutang. Cole ini berelengan sampai ke sikut dan pada bagian atasnya diberi renda. Cole ini dibuat dari kain putih sedangkan bagian belakang yang dikenal dengan istilah belakang Cole itu juga dibordir. Bagian depan Cole juga memakai kancing.Kain yang dipakai adalah kain silungkang berwarna merah dengan motif kembang berwarna emas.
3.    Cenela adalah berupa slop yang dipakai dengan kaos kaki putih. Cenela dihiasi dengan motif kembang berwarna emas.
4.    Konde/sanggul: yaitu konde bulan yang diperkuat dengan tusuk konde yang disebut karkupeng. Pakaian ini dipakai pada masa lalu oleh wanita-wanita, keluarga raja, keluarga guru, dan keluarga pendeta
Kebaya Hitam Gereja
1.    Kebaya ini bermotif baju cele, berlengan panjang dari kain brokar hitam, juga kain sarung dari jenis brokar yang sama. Pakaian ini dipakai boleh memakai kain pikul boleh juga tidak.
2.    Cenela hitam dipakai dengan kaos kaki putih.
3.    Sapu tangan/lenso berwarna putih dan berenda.
4.    Konde/sanggul yaitu konde bulan yang diperkuat dengan tusuk konde yang disebut haspel yang terbuat dari emas atau perak


Rumah Adat Maluku
BY RUMAH-ADAT.COM , AT 6:29 AM 

Rumah adat Maluku disebut rumah adat Baileo atau bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia artinya adalah balai. Pengambilan nama balai atau Baileo ini disesuaikan karena rumah adat Baileo ini dibangun dan digunakan oleh penduduk setempat sebagai tempat pertemuan dan bermusyawarah dengan dewan adat penduduk setempat dan bukan sebagai hunian penduduk. Selain itu rumah adat Baileo ini juga digunakan untuk menggelar acara adat dan sebagai tempat penyimpanan benda antik dan keramat seperti benda pusaka dan senjata peninggalan leluhur.






Rumah adat Baileo berbentuk rumah panggung yang besar dan memiliki ketinggian 1 sampai 2 meter. Atapnya terbuat dari rumbia dan rumah adat Baileo ini tidak memiliki sekat luar atau dinding dan jendela. Bangunan ini banyak menggunakan kayu –kayu yang dipenuhi ukiran unik serta dihiasi berbagai macam ornament khas Maluku. Rumah adat Maluku ini bukan hanya sekedar balai pertemuan biasa, pembangunannya berlandaskan prinsip, symbol, dan kepercayaan penduduk pada masa tersebut.


Pembangunan rumah adat Maluku atau rumah adat Baileo ini sebagai rumah panggung atau lebih tinggi dari tanah memiliki kepercayaan bahwa roh – roh leluhur memiliki posisi yang lebih tinggi atau diatas manusia. Secara prinsip rumah adat Baileo dibuat lebih tinggi agar penduduk setempat dapat melihat bahwa proses musyawarah dilakukan dari luar ke dalam dan dari bawah ke atas. Sedangkan secara fungsinya, kondisi rumah adat Baileo yang tidak memiliki sekat luar memudahkan binatang liar untuk memasuki dan merusak bagian dalam rumah adat sehingga dengan dibuat lebih tinggi dapat meminimalisir masuknya binatang. Namun, saat ini terdapat beberapa rumah adat Baileo yang dibangun tanpa tiang penyangga bawah melainkan menggunakan batu dan semen.







Rumah adat Baileo tidak memiliki sekat luar dan jendela. Menurut kepercayaan adanya sekat luar atau dinding dan jendela dapat menutup jalan masuk dan keluar bagi roh leluhur pada saat berlangsungnya proses musyawarah. Sedangkan secara fungsional dengan tidak adanya sekat luar maka penduduk dapat menyaksikan berlangsungnya proses musyawarah dari luar rumah adat Baileo. Namun, saat ini terdapat beberapa rumah adat Baileo yang dibangun menggunakan sekat luar atau dinding yang terbuat dari tangkai rumbia atau gaba – gaba.



Rumah adat Baileo mempunyai symbol yang menjadi salah satu ciri khasnya sebagai rumah adat yaitu adanya Batu Pamali dan Bilik Pamali tepat di bagian depan pintu utama rumah adat Baileo. Secara fungsional Batu Pamali diletakkan sebagai petunjuk bagi penduduk bahwa rumah tersebut adalah balai adat. Selain itu Batu Pamali  digunakan sebagai wadah untuk menaruh sesaji dan persembahan pada roh leluhur sedangkan Bilik Pamali digunakan sebagai tempat menaruh dan menyimpan benda – benda keramat penduduk setempat terutama yang digunakan pada upacara adat.



Kayu – kayu pada rumah adat Baileo dipenuhi berbagai ukiran – ukiran dan ornament - ornament. Pembuatan ukiran dan ornament ini juga berlandaskan kepercayaan dan juga sebagai symbol. Ukiran yang terdapat pada ambang pintu berbentuk dua ekor ayam yang saling berhadapan dan dihimpit oleh dua ekor anjing di sebelah kiri dan kanan. Ukiran ini menggambarkan kedamaian dan kemakmuran. Menurut kepercayaan hal itu disebabkan adanya roh leluhur yang menjaga penduduk Maluku. Sedangkan di atap rumah adat Baileo terdapat ukiran berupa gambar adalah bulan, bintang dan matahari yang berwarna merah, kuning dan hitam. Ukiran tersebut mencerminkan kesiapan rumah adat Baileo sebagai balai untuk melestarikan dan menjaga persatuan serta keutuhan adat dan hukum adat. Selain itu, terdapat pula ukiran yang melambangkan setiap klan atau marga dari penduduk tersebut.

Selain ukiran, jumlah pilar – pilar penyangga bangunan yang terdapat pada rumah adat Baileo menunjukkan jumlah klen yang terdapat di desa tersebut. Di bagian depan dan belakang rumah adat terdapat 9 pilar penyangga rumah, sedangkan di bagian kanan dan kiri rumah adat terdapat 5 pilar penyangga yang dikenal sebagai lambang Siwa Lima. Siwa Lima yang memiliki pengertian saling memiliki adalah symbol persekutuan desa - desa di Maluku dari kelompok Siwa dan Kelompok Lima.


Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjikX7UsKLZa4-uqsQ1qA8ahCgb-ZRlyXUJxRLmVJerdkjHFJHznNFep0x32NBeOGbJzFse7Onyt9ubsM06Tgp37no3Ztlw31FuBGmlcEbSBicnliv7xflZIKEz8u5h5JZZ2PTNXKNhtJUL/s1600/7a.jpg


Tokoh-tokoh dari Maluku (Alexander Jacob Patty)

ALEXANDER JACOB PATTY
Alexander Jacob Patty lahir pada tanggal 15 Agustus 1901 di Desa Nolloth, Pulau Saparua. Ia keturunan keluarga besar Patty di negeri Nolloth Pulau Saparua. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya pada “Saparoeasche School” di kota Saparua, Alex melanjutkan studinya ke Surabaya dan memasuki sekolah kedokteran NIAS (Nederlandsche Indische Aartsens School). Baru pada tingkat pertama Alex sudah dikeluarkan dari sekolah karena sifat dan tingkah lakunya yang ekstrim. Ia tidak senang dengan Pemerintah Belanda karena politik diskriminasi terhadap kaum militer Ambon dalam KNIL.
Pada tahun 1919, Alex pindah ke Semarang dan mulai aktif dalam dunia kewartawanan. Pertama kali mendirikan Perkumpulan Kemakmuran Rakyat Ambon (Maluku). Kemudian karena perkembangan gerakan kebangsaan, organisasi yang bersifat sosial ini ditinggalkan oleh Patty dan mendirikan organisasi baru yang bersifat politik yaitu “Sarekat Ambon” pada tanggal 9 Mei 1920 dan membawa ide organisasi ini ke dalam ide Nasionalis Indonesia. Pada tahun 1922, A. J. Patty masuk dalam “Radikale Consentratie” (gabungan partai radikal). Sifat-sifat radikal dan revolusioner Patty, ditentang oleh para rekannya dari “Ambonsche Studie Fonds”, namun ia tetap membawa Sarekat Ambon dalam semangat kebangsaan Indonesia. Ide Sarekat Ambon terus disiarkan melalui majalah Mena Muria dan di kota-kota besar di Jawa dibuka cabang Sarekat Ambon.
Sarekat Ambon juga mempunyai bagian khusus untuk wanita, yaitu organisasi “Ina Tuni”. April 1923, A. J. Patty memperkenalkan ide Sarekat Ambon kepada masyarakat Ambon. Sesuai kondisi didirikan dahulu suatu Komite Sarekat Ambon dan A. J. Patty segera berkeliling ke negeri-negeri mempropaganda ide Sarekat Ambon. Tahun 1924, Patty berhasil dipilih sebagai anggota Ambon Raad dan di lembaga perwakilan ini ia mulai memperjuangkan nasib rakyat, namun politiknya ditentang keras oleh para raja, yaitu “Regenten Bond”. Ia dituduh berbahaya oleh pemerintah, padahal rakyat sangat simpatik pada Sarekat Ambon. Karena dituduh melanggar hukum (adat) dan menghasut rakyat, ia ditangkap dan ditahan oleh Asisten Residen. Kemudian dibawa ke Makassar dan diadili oleh “Raad van Justitie”. Setelah dihukum, tahun 1942, Patty diringkus ke Bengkulu (Suamatera) kemudian ke Boven Digul (Irian Jaya) sampai pecah Perang Dunia II. Pada masa Jepang, dapat meloloskan diri ke Australia dan pada masa revolusi kemerdekaan, berjuang bersama Bung Karno dalam mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Negara Kesatuan RI. Alexander Jacob Patty meninggal dunia di Badung pada tanggal 15 Juli 1947. Tokoh pejuang ini dihargai sebagai seorang “Perintis dan Pejuang Kemerdekaan”

Referensi: Balagu. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/alexander_patty.html


Tokoh-tokoh dari Maluku (Prof. Dr. G. A. Siwabessy)

GERRIT AUGUSTINUS SIWABESSY
Gerrit A. Siwabessy dilahirkan dalam suatu keluarga petani dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga guru pada tanggal 19 Agustus 1914 di Desa Ullath Pulau Saparua. Ia keturunan keluarga besar Siwabessy dari Desa Ullath di Pulau Saparua. Setelah menamatkan pendidikan dasar, kemudian ke sekolah menengah MULO di Ambon dan tamat tahun 1931. Selanjutnya melanjutkan studi ke sekolah kedokteran NIAS (Nederlandsche Indische Aartsens School) di Surabaya. Tahun 1942 memperoleh ijazah dokter dan dalam tahun yang sama ditempatkan pada rumah sakit Siampang di Surabaya, mengepalai bagian radiologi sampai tahun 1945.
Pada zaman Jepang, ia dianiaya dan nyaris meninggal. Selain tugas pokok pelayanan kesehatan, ia mengurus pula para pengungsi orang-orang Maluku. Pada masa perang kemerdekaan, Siwabessy dengan pemuda Maluku turut berjuang dalam pertempuran Surabaya melawan tentara Inggris dan Belanda. Ia menjadi anggota Komite Nasional Daerah dan menghimpun pemuda Maluku dalam oraganisasi PRIM (Pemuda Republik Indonesia Maluku). Kemudian dibentuk “Devisi Pattimura” dan Siwabessy kepala stafnya. Bersama Mr. J. Latuharhary dan Dr. J. Leimena, memimpin masyarakat Maluku di Jawa dalam revolusi kemerdekaan. Pada tahun 1949 melanjutkan studi ke Inggris (London) dan mendalami bidang Radiologi dan Kedokteran Nuklir di London University.
Kembali ke Indonesia tahun 1962 diangkat sebagai Kepala Bagian Radiologi (Ilmu Sinar) pada rumah sakit pusat RSCM. Kemudian Dr. Siwabessy merintis pembinaan di bidang radiologi antara lain : mendirikan Sekolah Asisten Rontgen di RSCM, melatih para dokter penyakit paru-paru, mengatur dan membina kegiatan-kegiatan klinis dalam bidang radiologi di rumah sakit pemerintah maupun swasta. Dr. Siwabessy kemudian diangkat sebagai Kepala Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan dan juga menjadi ketua dari Panitia Penyilidikan Radioaktivitas dan Tenaga Atom. Pada tahun 1954 didirikanlah Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) dan Siwabessy menjadi direkturnya.
Pada tahun 1956, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Radiologi pada Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Prof. Dr. G. A. Siwabessy juga mengepalai Tim Dokter Kepresidenan. Pada Kabinet Pembangunan ia menjadi Menteri Kesehatan selama dua periode. Prof. G. A. Siwabessy juga mempunyai reputasi internasional dalam bidang keahliannya. Ia meninggal dunia di Jakarta pada tahun 1981. Tokoh nasional dan “Bapak Atom” Indonesia ini dihargai jasa-jasa dan pengabdiannya oleh Pemerintah RI dan bangsa Indonesiaa sebagai seorang Mahaputera Indonesia yang besar dan dianugerahi bintang tertinggi yaitu “Bintang Mahaputera Utama”

Referensi: Balagu. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/gerits_siwabessy.html

Tokoh-tokoh dari Maluku (Johanes Leimena)

JOHANNES LEIMENA

Johannes Leimena atau akrab dipanggil Om Jo lahir pada Ambon, 6 Maret 1905 merupakan anak kedua dari empat anak pasangan Dominggus Leimena dan Elizabeth Sulilatu. Pada usia lima tahun, Johannes Leimena telah menjadi yatim. Beliau kemudian diasuh oleh pamannya. Masa kecil beliau dihabiskan di Ambon dengan bersekolah Ambonsche Burgerschool hingga tahun 1914, sebelum kemudian melanjutkan pendidikan di Jakarta mengikuti kepindahan pamannya. Di Jakarta, beliau bersekolah di Europeesch Lagere School (ELS) selama beberapa bulan, kemudian pindah ke sekolah menengah Paul Krugerschool (kini PSKD Kwitang), lalu melanjutkan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs). Gelar dokter beliau raih dari STOVIA. Beliau mulai bekerja sebagai dokter sejak tahun 1930 dan bertugas pertama kali di CBZ Batavia yang kini menjadi RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Setelah bekerja sebagai dokter, ia melanjutkan studi dan mendalami ilmu penyakit dalam. Tanggal 17 November 1939, Dr. Leimena mempertahankan disertasi doktornya dan meraih gelar doktor di Geneeskunde Hogeschool/GHS (Sekolah Tinggi Kedokteran), Batavia.
Johannes Leimena muda aktif di Jong Ambon dan ikut serta mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928 yang menghasilkan Sumpah Pemuda. Sejak itu, karier Leimena semakin kuat dalam dunia pergerakan kemerdekaan Indonesia. Setelah Indonesia Merdeka, Leimena ikut membidani pendirian Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Johannes Leimena juga merupakan satu-satunya orang yang mampu menjadi menteri selama 21 tahun berturut-turut dalam 18 kabinet yang berbeda. Jabatan menteri yang beragam yang pernah dijabati beliau, mulai dari Menteri Kesehatan yang pertama, Wakil Perdana Menteri, dan Wakil Menteri Pertama pada Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora 11(1966). Johannes Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituier) di TNI-AL.
Ketika Orde Baru berkuasa, Dr. Leimena mengundurkan diri sebagai menteri, tetapi ia masih dipercaya Presiden Soeharto sebagai anggota DPA (Dewan Pertimbangan Agung) hingga tahun 1973. Setelah itu, Johannes Leimena kembali aktif mengisi masa tua di organisasi-organisasi sosial hingga saat mengembuskan napas terakhir pada tanggal 29 Maret 1977 di Jakarta.

Referensi: Pahlawan Indonesia. (n.d.). Retrieved May 7, 2016, from https://www.pahlawanindonesia.com/biografi-pahlawan-nasional-dr-johannes-leimena/

Tokoh-tokoh dari Maluku (Leo Wattimena)

LEO WATTIMENA
Leonardus Willem Johanes Wattimena memiliki nama panggilan sehari-hari yaitu Bladsem, yang mengandung arti kilat/petir, sementara di kalangan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dikenal dengan nama yang singkat Leo Wattimena. Putra daerah kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat 3 Juli 1927 itu lahir dan dibesarkan oleh keluarga Kristen Protestan yang taat.   Ayahnya bernama Hein Leonardus Wattimena berasal dari Ambon, Maluku sedangkan ibunya yang bernama Maria Lingkan Wattie berasal dari Kawengian, Manado Sulawesi Utara.  
Sebelum memulai kariernya di AURI, diawali dengan menempuh  Hollands Inlandsche School (HIS) dan Algeme Middelbare School (AMS) pada tahun 1950 di Jakarta.     
Karier di AURI dimulai  bersama calon-calon perwira penerbang yang dikirim untuk mengikuti pendidikan Sekolah Penerbang Taloa selama satu tahun di California Amerika Serikat pada tahun 1950. Pendidikan penerbang tersebut diikuti 60 kader yang dikirim pemerintah Indonesia untuk mengikuti pendidikan penerbang Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TOLOA). 
Selama mengikuti pendidikan penerbang di Taloa Leo Wattimena menjadi lulusan terbaik dari 45 kadet yang menjadi penerbang, dan selebihnya menjadi navigator. Menyandang lulusan terbaik merupakan suatu kebanggaan tersendiri dan mengandung arti bagi dirinya untuk selalu berbuat yang terbaik setiap menjalankan tugas. Dari hasil yang sangat membanggakan itu membuat dirinya mendapat kesempatan Bersama 18 temen-temennya, untuk melanjutkan pendidikan instruktur selama tujuh bulan di TALOA.
Sesampainya kembali di tanah air selanjutnya ditempatkan di Skadron 3 Lanud Halim Perdanakusuma sebagai penerbang pesawat tempur merangkap instruktur Pesawat P-51 Mustang.  
Setelah kembali ke tanah air Indonesia  tahun 1951, kemudian diangkat menjadi Letnan Muda Udara I  dan ditempatkan di Komando Operasi di Halim Perdanakusuma, selanjutnya ditempatkan di Skadron 3 hingga pada tahun 1952 naik pangkat menjadi Letnan Udara II.  
Setelah naik pangkat menjadi Letnan Udara I di tahun 1954, kemudian mendapatkan kesempatan kembali pergi ke Inggris untuk mengikuti Pendidikan Penerbang Pesawat Pancargas pada RAF Centre Flying School di Little Resington selama satu tahun. Tahun 1955 bertugas kembali ke India dalam rangka peninjauan kesatuan-kesatuan pesawat Jet Vampire dari Indian Air Force selama dua bulan.   Setelah pulang dari India dengan pangkat Acting Kapten Udara, kemudian ditempatkan sebagai Perwira Instruktur Penerbang di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.   Meniti karier berikutnya pada bulan Mei 1956 sebagai perwira penerbang Skadron 3 diperbantukan pada Komando Group Komposisi.  
Pada bulan Juni 1956 kembali mendapatkan kesempatan yang ketiga kalinya dikirim ke luar negeri dalam rangka menghadiri perayaan hari Angkatan Udara Republik Uni Sovyet (Rusia). Pada pada tanggal 18 April 1956, Leo Wattimena menikah dengan seorang gadis bernama Corrie Dingemans, dan mereka dikaruniakan empat orang anak.
Penempatan penerbang untuk pesawat jet tempur de Havilland DH-115 Vampire adalah penerbang Leo Wattimena dan Rusmin Nurjadin.  Selesai mengikuti latihan untuk mengawaki Pesawat Jet Vampire, keduanya kembali ke tanah air untuk mempersiapkan calon-calon penerbang Pesawat Jet Vampire, salah satunya Kapten Udara Sri Mulyono Herlambang.  Bakat luar biasa yang ditunjukan saat menerbangkan DH-115 Vampire untuk pertama kalinya itu, menghantarkan Leo Wattimena untuk dipercaya memimpin armada Vampire Skadron 11 Lanud Kemayoran (1 Juni 1957).  Tercatat bahwa waktu itu Indonesia sudah memiliki 16 jet tempur buatan Inggris ini.  Predikat yang disandangnya  "sangat paham terhadap pesawat terbang" memang bukan omong kosong.
Dengan dibentuknya Komando Regional Udara (Korud) tahun 1961 akhirnya mendapat tugas baru sebagai Panglima Komando Regional Udara IV, tahun 1962 sebagai Wakil II Panglima Komando Mandala pembe­basan Irian Barat dengan pangkat Kolonel Udara. Agustus 1962 sebagai Panglima Angkatan Udara Mandala dengan pangkat Komodor Udara.  
Leo Wattimena adalah Jenderal pertama yang mendarat di Irian Barat, dengan menggunakan Pesawat C-130 Hercules setelah melaksanakan tugas penyebaran pamflet di daerah Merauke.  Pesawat yang diterbangkan oleh Captain Pilot Letkol Udara M. Slamet dan Co Pilot Mayor Udara Hamsana didalamnya ada Komodor Udara Leo Wattimena.   Setelah tugas selesai timbul keinginan Komodor Udara Leo Wattimena mendarat di Lapangan Terbang Merauke. 
Setelah masa tugasnya sebagai Duta besar di Italia berakhir, Laksamana Muda Udara Leo Wattimena menderita sakit dan harus dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta.  Di Rumah sakit Cipto itulah Laksamana Muda Udara Leo Wattimena menghembuskan nafasnya yang terakhir dan berpulang ke rumah Tuhan, dalam usia 47 tahun dengan meninggalkan seorang istri dan 4 orang anak.  Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, jenasah disemayamkan di Markas Besar Angkatan Udara untuk memberi kesempatan kepada seluruh anggota AURI  memberikan penghormatan terakhir. Selama berdinas di AURI mendapatkan Bintang/tanda jasa berupa medali Sewindu, Gerakan Operasi Militer III, IV, V, VI, VII, Bintang Sakti dan Satyalencana Wira Dharma.

 


Referensi: Penerbang legendaris Auri. (2014, May 28).  Retrieved May 7, 2016, from Situs TNI Angkatan Udara. http://tni-au.mil.id/content/penerbang-legendaris-auri 

Tokoh-tokoh dari Maluku (Willem J Latumeten)

WILLEM JOHANNES LATUMETEN
Willem Johannes Latumeten lahir tanggal 16 April 1916 di Saparua dan dia adalah putera sulung dari Prof. DR. Y. A. Latumeten, tokoh pejuang dan ahli penyakit jiwa. Pendidikan yang di tempuh oleh Willem Johanes Latumeten adalah dimulai dari ELS (Europesche Lagere School) di Sabang dan lulus tahun 1930. Beliau kemudian melanjutkan di HBS di Malang dan lulus tahun 1937, lalu melanjutkan di Geneeskundige Hogeschool  (Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta.
Pengabdian beliau dimulai sejak zaman revolusi fisik sampai pengisian kemerdekaan, baik di Kementrian Penerangan maupun di Departemen Olahraga ataupun sebagai Pembina Olahraga. Beliau mulai bekerja pada Kementrian Penerangan Jakarta permulaan tahun 1946 dan pada pertengahan tahun 1947 ia memimpin salah satu lembaga surat kabar yaitu Het Nieuws Blad. Beliau juga menjabat selaku Kepala Pewartaan / Press Service  Kemper RIS yang dimulai pada tahun 1950 dan merangkap juru bicara Departemen Penerangan. Ketika kembalinya zaman RI, beliau juga menjadi Kepala Bagian Pewartaan Kementrian Penerangan merangkap juru bicara. Pada tahun 1958 ia ditugaskan untuk membantu Menteri Penerangan dan tahun 1962 ditugaskan ke Departemen Olahraga sebagai Pembantu Khusus Menteri Olahraga.
Ketika menjabat sebagai Pembina olahraga, adapun usaha-usaha yang beliau lakukan, antaralain:  mendirikan Sekolah Tinggi Olahraga di Jakarta, membentuk keorganisasian olahraga (PERBASI), membina para atlet untuk terjun ke ASEAN GAMES IV Tahun 1962 dan GANEFO tahun 1963, menjadi Sekretaris Umum Komite Olympiade Indonesia Pusat (1955 – 1964). Willem Johanes Latumeten disebut sebagai seorang pejuang dan nasionalis sejati karena dalam perundiangan antara Indonsia dengan Belanda, sering bertindak sebagai juru bicara delegasi Indonesia. Willem Johanes Latumeten meninggal dunia 23 Maret 1965, dan sebagai pahlawan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata Jakarta. Karena jasa-jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi pemerintah “LENCANA BAKTI”.


Referensi: Balagu. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://balagu.50webs.com/pahlawan/phmaluku/wj_latumeten.html.

Tokoh-tokoh dari Maluku (Prof. Dr. Jonas Latumeten

Prof. Dr. JONAS ANDREAS LATUMETEN
Jonas Andreas Latumeten lahir di Ambon, dan ia adalah anak dari seorang nelayan sehingga di menjadi sorang nelayan muda yang terampil menangkap ikan dan ia sendiri yang memasarkan hasil tangkapannya ke kota Ambon dengan berjalan kaki sekitar 23 km. Sering di perjalanan hasilnya di ambil secara paksa oleh pegawai dan polisi Belanda. Penderitaan yang sama juga dialami oleh penduduk desanya, sehingga sejak masih muda Jonas sudah benci terhadap penjajah Belanda.
Jonas ketika masih kecil dia memiliki semangat dan sifat yang ulet dan keinginan untuk bersekolah yang tinggi. Melalui sekolah Schakel (Sekolah Penghubung Untuk menghubungkan Pengajaran Di Sekolah Bumi Putera Dengan Pengajaran Barat). Jonas lulus tes masuk ke ELS (Europesche Lagere School) yaitu Sekolah Dasar untuk anak-anak Eropa/Belanda. Karena pandai dan cerdas Jonas dapat meraih Diploma ELS dan ia maju terus ke Batavia (Jakarta) mengikuti sekolah Kedokteran STOVIA dan berhasil merahi gelar Dokter. Setelah lulus STOVIA Dokter Jonas segera pulang ke Ambon dan menikah dengan Leentje Tuhupeiory. Setelah dikaruniai seorang Putera (Weim Johanes), Dokter Jonas kembali ke Jakarta dan memulai karier sebagai dokter.
Dr.  Jones kemudian ditugaskan di Malang dan mengasuh Rumah Sakit Jiwa di Lawang. Selain bekerja sebagai medis, Dr. Jonas ikut aktif dalam olahraga dan secara dim-diam ikut sebagai anggota pergerakan pemuda (yong Ambon Nerbond). Dr.  Jones juga memiliki prestasi yang sangat baik dalam dunia kedokteran sehingga pada tahun 1922 Ia dikirim ke Negeri Belanda untuk mendalami pengetahuan di bidang Psychiatri (Penyakit Jiwa). Ketika di Belanda ia bekerja sama pula dengan teman-temannya dalam organisai politik “Perhimpunan Indonesia”, dan karena berbahaya bagi Belanda ia segera dikembalikan ke Indonesia tahun 1924 dan diasingkan ke Sabang Pulau WE. Pada tahun 1929 Dokter Letumeten dikembalikan dari pengasingan dan diberikan tugas sebagai Direktur Rumah sakit Jiwa di Bogor. Pada masa pergerakan nasional dan perjuangan kemerdekaan, Dr. J.A. Latumeten bersama teman- temannya aktif dalam perjuangan dan selanjutnya tokoh Indonesia yang ahli dalam penyakit jiwa ini berjuang memajukan bangasa dan negaranya . Beliau meninggal dunia dan dihargai sebagai pejuang dan perintis kemerdekaan.


Referensi: Smileambon. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://www.smileambon.com/2012/12/pahlawan-nasional-maluku.html#

Tokoh-tokoh dari Maluku (Pdt. Thomas Pattiasina)

PENDETA THOMAS P. PATTIASINA (1914 -1982)
Thomas P. Pattiasina dilahirkan dalam satu keluarga guru pada tanggal 14 April 1914 di Ambon. Thomas keturunan keluarga besar Pattiasina dari Negeri Booi, Pulau Saparua. Setelah manamatkan pendidikan dasar pada “ Ambonsche Burger School “ tahun 1930, Thomas melanjutkan studi ke sekolah menengah MULO Kristen dan tamat tahun 1934. Selanjutnya ke pendidikan tinggi pada sekolah Theologi “ STOVIL “ (School tot opleding van Inlandse Leeraren) di Ambon dan di Tahbiskan menjadi Pendeta pada tahun 1942.
Awal karir Pendeta Th. P. Pattiasina adalah  dipercayakan sebagai Direktur Sekolah Tinggi Theologia GPM menggantikan Pendeta .S. Marantika. Pendeta Pattiasina dipercayakan memimpin GPM menggantikan Pendeta F.H. de Fretes pada tahun 1960 dalam sidang Sinode GPM di Ambon. Beliau adalah Ketua Sinode GPM yang paling lama masa jabatannya yaitu dari tahun 1961-1976. Pendeta Th. P. Pattiasina dikenal sebagai ketua Sinode yang mampu memimpin umat GPM keluar dari permasalahan hidup maju ke depan dalam berbagai bidang kehidupan bahkan selalu menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah daerah Maluku di zaman Gubernur Mohammad Padang, Latumahina , Soemitro, Sumeru, dan Hasan Slamet.
Beliau berprinsip bahwa GPM tidak boleh terjun dalam politik praktis agar dapat menjalankan misi Gereja dengan baik. Tokoh GPM yang memiliki dedikasi dan semangat pengabdian yang tinggi ini mengakhiri masa jabatannya dalam sidang Sinode tahun 1976 dan diganti oleh Pendeta J. M. Wattimena . Pendeta Thomas P. Pattiasina meninggal dunia di Ambon tahun 1982.

Referensi: Smileambon. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://www.smileambon.com/2012/12/pahlawan-nasional-maluku.html# 

Tokoh-tokoh dari Maluku (Julius Sijaranamual)

DOMINGGUS JULIUS R. SIJARANAMUAL (1944 - SEKARANG)
Dominggus Julius R. Sijaranamual lahir di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 21 April 1944. Keturunan keluarga besar Sijaranamual dari desa Itawaka di Pulau Saparua ini, dikenal sebagai seorang pengarang cerita pendek, pengarang novel dan juga sekaligus penulis sajak. Selain itu ia juga banyak memberikan sumbangan pemikiran atau ide-ide tentang materi bacaan anak-anak. Pendidikan yang pernah ikuti oleh Bapak Dominggus adalah sekolah rakyat (SR), SMP bagian A, SMA bagian C dan melanjutkan pada sekolah tinggi Theologia jurusan Christian Education di Jakarta namun tidak selesai. Bapak Dominggus Julius R. Sijaranamual menikah dengan seorang pengarang wanita yaitu nona Theresia S. Jansen. Pada tahun 1950 pulang ke Ambon dan bekerja pada kantor cabang Kenpen Negara Indonesia Timur sebagai juru warta. Selain kegiatan kantor waktunya juga dipakai untuk menulis cerpen atau yang lainnya. Ia terus meneruskan bakatnya dengan tiada jenuh menulis. Sajak- sajaknya mulai dimuat di surat kabar dan majalah. Julius mangawali kariernya di Ambon sebagai seorang satrawan daerah.
Spesialisasi Julius sebagai penulis cerita pendek dapat dilihat bahwa ada ciri khasnya yaitu ia memiki bentuk tersendiri dalam cara penulisannya. Keunikan Julius adalah bahwa ia selalu sportif dalam menggarap tulisannya dan dalam mengungkapkan isi cerita, Julius mampu memukau pembacanya dengan cara mengungkapakan apa yang tersimpan di dalam jiwa. Salah satu ciri khasnya lagi ialah bahwa dalam proses penulisan ia tidak pernah menentukan tema, namun tema itu datang dengan sendirinya bersama cerita yang didukungnya . Dari cerpen-cerpen yang ditulisnya, Julius dapat dikategorikan sebagai penulis yang menggunakan gaya bahasa sinisme. Julius termasuk seorang seniman yang eksentrik dan selalu gujoro.Sebagai pengasuh majalah anak-anak “Kawanku”, Julius mempunyai ide-ide yang cukup terpuji dan patut dicontoh. Seluruh karya Julius terbit di berbagai organisasi kebudayaan, karena itu ia tercatat sebagai seorang tokoh budaya dan sastrawan yang terkenal.

Referensi: Smileambon. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://www.smileambon.com/2012/12/pahlawan-nasional-maluku.html#

Tokoh-tokoh dari Maluku (Dr.J. Kayadoe)

DR. J. KAYADOE
Dr. J. Kayadoe lahir dari keluarga petani pada tanggal 5 Februari 1901 di Ambon. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar pada “ Ambonsche Burgerschool” di Ambon pada tahun 1916 dan masuk sekolah menengah MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) dan tamat tahun 1920. Dr. J. Kayadoe melanjutkan pendidikannya ke sekolah kedokteran Bumi Putera “STOVI” (School Tot Opleiding van Inlandsche Aartsen) di Jakarta. Pada tahun 1928 beliau berhasil mendapatkan gelar dokter dan ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia.
Pada zaman pergerakan nasional, Dr. J. Kayadoe aktif dalam organisasi-organisasi sosial dan politik. Dia pernah menjadi anggota dalam organisasi “Yong Ambon” dan aktif dalam gerakan mahasiswa di STOVIA. Kemudian masuk dalam organisasi politik orang Maluku atau Ambon yaitu “Sarekat Ambon” yang didirikan oleh Alexander Jacob Patty di Semarang tahun 1923. Ketika A.J. Patty ditangkap di Ambon dan dibuang ke Bengkulu dan kemudian ke Boven Digul di Irian Jaya, Dr. J. Kayadoe memimpin Sarekat Ambon yang berpusat di Jakarta yang kemudian dipindahkan ke Surabaya dan dipimpin oleh Mr. J. Latuharhary.
Selama pendudukan militer Jepang, semua organisasi politik dan pergerakan nasional dilarang, termasuk Sarekat Ambon . Pada zaman penindasan Jepang, tokoh-tokoh pergerakan berjuang juga menolong rakyat dari penderitaan dengan bebagai organisasi sosial. Salah satu adalah “Badan Pertolongan Ambon – Timor (Bototi) di Jakarta. Namun karena suasana perang dan kondisi politik penguasa jepang, para tokoh antara lain Dr. J. Kayadoe, Mr. J. Jatuharhary ini dianggap mata-mata dan bekerja sama dengan sekutu anti Jepang. Mereka dibawa ke Bogor dan diperiksa oleh tentara Jepang serta dianiaya. Karena penderitaan fisik yang tidak tertahankan pejuang yang mengantarkan orang Maluku ke pintu Gerbang Kemerdekaan itu meninggal dunia pada bulan Agustus 1943, dan untuk jasa-jasanya itu beliau diakui pemerintah Indonesia sebagai pejuang dan perintis kemerdekaan

Referensi: Smileambon. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://www.smileambon.com/2012/12/pahlawan-nasional-maluku.html#

Tokoh-tokoh dari Maluku (Willem Reawaru)

WILLEM REAWARU

Willem Reawaru di lahirkan dalam sebuah keluarga petani pada tanggal 22 April 1910 di Ambon. Setelah menamatkan pendidikan dasarnya pada “Ambonsche Burger School” di Ambon, Willem tidak bisa melanjutkan studi lagi sehingga  Ia mulai bekerja pada Perusahan Pelayaran Belanda yaitu KPM. Ketika masih muda dia telah memiliki perasaan nasionalisme karena banyak membaca buku-buku sejarah yang berisi peristiwa-peristiwa pemberontakan terhadap Belanda, antara lain Perang Pattimura tahun 1817 dan karangan – karangan Bung Karno yang mengecam imperialisme dan kolonialisme.Willem bersahabat karib dengan Tokoh Pejuang Aleksander Jacob Patty. Oleh sebab itu ia tidak suka bekerja sama dengan Belanda dan akhirnya bekerja sebagai seorang swasta. Pada masa Pergerakan Nasional, Willem yang di kenal dengan nama panggilan “Patje”, bersama dengan pendiri Sarekat Ambon yaitu A.J. Patty dan E.U. Pupella, mereka disebut sebagai tokoh-tokoh politik yang berbahaya oleh Belanda.
Pada zaman revolusi kemerdekaan Patje mengorganisir para pemuda dalam organisasi pemuda untuk mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pada tanggal 17 Agustus 1946 bersama E.U. Pupella mendirikan organisasi politik PIM (Partai Indonesia Merdeka) yang menghimpun semua tokoh nasionalis. Patje menjadi ketua PIM cabang Kota Ambon dan kemudian mengambil alih pimpinan organisassi pemuda PPI (Persatuan Pemuda Indonesia) dan menjadi Ketua Badan Perjuangan Pembebasan Irian Barat. Patje adalah seorang tokoh pergerakan yang sangat ekstrim. Ia berprinsip bahwa kolonialisme harus dihadapi dengan kekuatan senjata. Karena itu PPI diusahakan sebagai suatu barisan pelopor dari pemuda.
Sebagai wakil PIM di dalam Dewan Maluku Selatan bersama E.U. Pupella dan Cokro, Patje terkenal sebagai tokoh radikal dan seorang orator yang ulung. Karena sifat-sifat patrotisme dan nasionalisme itulah maka Patje sangat dimusuhi oleh Tentara Separatis dan beliau secara kejam pada tanggal 23 juli 1950 disekap di dalam sebuah Lubang Maut di Pantai Liang Pulau Ambon bersama pembantunya. Atas jasa-jasa dan pengorbanannya kepada Nusa dan Bangsa, maka Bapak Wim Reawaru dihargai Pemerintah Republik Indonesia sebagai Perintis dan Pejuang Kemerdekaan di Daerah Maluku


Referensi: Smileambon. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://www.smileambon.com/2012/12/pahlawan-nasional-maluku.html# 

Tokoh-tokoh dari Maluku (Frits Marthin Pulpella)

FRITS MARTHIN PULPELLA
Frits Marthin Pulpella yang dikenal dengan nama panggilan Boetje, lahir dari keluarga guru pada tanggal 20 Agustus 1915 di Pulau Ambon. Tamat pendidikan dasar pada ELS (Europesche Lager School) di Ambon kemudian melanjutkan studi ke Makassar dan masuk HIK (Hollands Inlsndse Kweek School) dan tamat pada tahun 1936.  Frits Marthin Pupella mulai berkarier sebagai guru kemudian bekerja pada kantor pos dan terakhir mengabdi sebagai kepala Kantor Penerangan Provinsi Maluku. Setelah itu dia mengungsi ke Jogyakarta dan ikut dalam perjuangan mempertahankan Negara RI dalam kesatuan Laskar Maluku, kemudian pada tanggal 16 Oktober 1946 mendampingi Dr. G.A. Siwabessy  sebagai pembantu pada Staf Devisi Pattimura yang bermakas di Malang. 
Pada bulan Oktober beliau menjabat sebagai Komandan Resimen Tulukabessy dengan pangkat Letnan Kolonel yang bermakas di Gondolayu Yogjakarta dan dibantu Mayor Herman Pieters sebagai Kepala Staf bagian 1.  pada tahun 1948 pecah pemberontakan PKI di Madiun, para perwira diturunkan pangkatnya dan Resimen Tulukabessy mengalami rasionalisasi dan reorganisasi oleh Gubernur Maluku Mr. J. J. Latuharhary. Mayor Pupela diganti dan bekerja membantu Staf Kololonel Abdul Haris Nasution.  Selanjutnya beliau dikirim untuk bekerja pada Kantor Gubernur Maluku yang berpusat di Yogjakarta. 
Sebagai pejuang beliau pernah masuk penjara tahun 1945, setelah kembali ke Ambon ikut aktif dalam Partai Indonesia Merdeka (PIM) yang didirikan oleh Bapak E.U. Pupela tokoh pejuang di Ambon. Tahun 1950 ikut dalam penumpasan pemberontakan RMS dan bersama-sama dengan Gubernur Maluku Mr. J. Latuharhary. Frits Marthin Pupela dikenal sebagai seorang tokoh pendiri Yayasan Perguruan Tinggi Maluku dan Irian Barat, yang kemudian memperjuangkan menjadi Universitas Pattimura tahun 1962.  Frits Marthin Pulpella meninggal dunia di Ambon tahun 1974 dalam usia 58 tahun.


Referensi: Balagu. (n.d.). Pahlawan nasional Maluku. Retrieved May 7, 2016, from http://balagu.50webs.com/pahlawan/ts/frits_pupela.html

Tokoh-tokoh dari Maluku (Martha Christina Tiahahu)

MARTHA CHRISTINA TIAHAHU
 Martha Christina Tiahahu lahir di Nusa Laut, Maluku pada 4 Januari 1800 lalu meninggal pada 2 Januari 1818. Martha Christina Tiahahu adalah putri dari Kapitan Paulus Tiahahu berasal dari Abubu yang merupakan teman dari Thomas Matulessy yang juga turut serta dalam perang Patimura melawan Belanda pada tahun 1817. Martha Christina adalah seorang wanita yang sejak remaja telah mengikuti ayahnya dalam rapat pembentukan kubu pertahanan. Ketika usianya yang masih belia, yaitu 17 tahun Martha Christina selalu berani melawan para penjajah. Berbekal alat yang sangat sederhana, bambu runcing, ia mampu membuat para penjajah kesulitan menghadapinya. Ikat kepala yang ia gunakan menjadi bukti keberanian seorang gadis yang masih belasan umurnya.
Martha Christina juga pernah turut berperan dalam pertempuran melawan Belanda di pulau Saparua tepatnya di desa Ouw dan Ullath. Ia juga mampu memimpin para pejuang wanita lainnya untuk mendampingi para pejuang pria dalam misi perebutan wilayah Maluku yang telah direbut oleh Belanda. Pada pertempuran tersebut, Richemont selaku seorang pimpinan perang Belanda dapat dilumpuhkan oleh pasukan Martha Cristina. Mengetahui kematian pemimpin ini, penjajah semakin brutal dalam menekan dan menyerang rakyat Maluku. Melalui persenjataan lengkap Belanda, pasukan Maluku dapat dikalahkan. Sebagai konsekuensinya ayah Martha Christina, Kapitan Paulus Tiahahu ditangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Selanjutnya Martha Christina dihukum dan diasingkan ke pulau Jawa, dan pihak Belanda mempekerjakannya diperkebunan kopi secara paksa. Melalui keberanian yang dimilikinya, Martha Christina juga sempat melawan pasukan Belanda di dalam kapal. Namun pada akhirnya Martha Christina meninggal di perjalanan. Pada usianya ke 18 tahun, jasadnya hanya dibuang ke lautan. Berkat pengorbanan beliau, ia ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada tahun 1969 berdasarkan SK Presiden RI No. 012/TK/Tahun 1969, tanggal 20 Mei 1969. Selain itu, di Ambon pun dibangun sebuah patung monumen untuk mengenang jasa kepahlawanannya.


Referensi: Biografi Martha Christina Tiahahu: Kisah gadis pemberani Maluku. (n.d.). Retrieved May 7, 2016, from Biografipahlawan.com. http://www.biografipahlawan.com/2015/01/biografi-martha-christina-tiahahu.html.